Mengenal Teknologi Deepfake dan Contoh Implementasinya
Contoh implementasi teknologi deepfake/Screenshot

Teknologi

Mengenal Teknologi Deepfake dan Contoh Implementasinya

Farah Diba Agustine

TECHNOSIGHTZ.COM - Deepfake adalah teknologi berbasis artificial intelligence (AI) yang bisa dimanfaatkan untuk memanipulasi video dengan mengubah wajah seseorang. Kata Deepfake sendiri merupakan hasil kombinasi antara dua istilah yakni deep learning (pembelajaran mendalam) dan fake (tiruan).

Jika diartikan ke bahasa Indonesia, Deepfake memiliki arti `tiruan yang dalam`. Dari pengertian tersebut, tidak heran jika teknologi ini mampu melahirkan video-video manipulasi yang hasilnya sangat mirip, bahkan sama dengan aslinya.

Cara kerja

Seperti disebutkan di atas, Deepfake berasal dari salah satu istilah yakni deep learning. Istilah ini sebenarnya mengacu pada proses manipulasi yang dilakukan oleh Deepfake itu sendiri, yang mana teknologi tersebut mempelajari ribuan sampel dari wajah-wajah yang hendak dijadikan target secara mendalam, mulai dari gaya berbicara, pola perilaku, persamaan dan perbedaan kedua wajah, dan sebagainya. Teknologi ini juga terus mereduksi bagian-bagian yang dapat mengurangi tingkat kemiripan.

Cara Deepfake mempelajari sampel tersebut disebut juga dengan metode Generative Adversarial Networks (GAN) dengan struktur jaringan dari jenis algoritma AI yang sangat bagus dalam menemukan pola dan korelasi dalam kumpulan data yang besar.

Implementasi

Tidak hanya memanipulasi video, teknologi Deepfake juga mampu memanipulasi suara. Untuk implementasinya, teknologi Deepfake sebenarnya dapat digunakan dalam proses pembuatan film, misalnya untuk mengembalikan kehadiran tokoh-tokoh lawas ke film versi terbaru, sehingga terlihat autentik.

Padahal, adegan tersebut diperankan oleh aktor lain, hanya saja wajahnya diganti. Namun hingga saat ini, industri perfilman diketahui masih memilih menggunakan Computer Generated Imagery (CGI).

Terlepas dari penggunaan di industri film, teknologi Deepfake justru digunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menebar informasi hoax. Itu sebabnya, teknologi Deepfake dianggap memiliki potensi bahaya karena adanya celah penyalahgunaan.

Agar tidak tertipu dengan video Deepfake, memang diperlukan pengamatan yang jeli. Penonton dapat memulainya dari menonton video tersebut di layar yang cukup besar, kemudian perhatikan rambut, mata, dan gigi orang tersebut. Karena, ketiga bagian wajah tersebut yang paling sulit dikerjakan oleh Deepfake. Bagian rambut biasanya terlihat kurang realistis, mata tidak berbicara alias tatapannya sedikit kosong, dan gigi yang cenderung terlihat rata.

Baca juga: Google Terapkan Autentikasi Biometrik di Browser Chrome Android

Namun, hal-hal tersebut juga dipengaruhi oleh kepiawaian seorang editor dalam menggunakan teknologi Deepfake. Jika sangat menguasainya, hasil manipulasi wajah mungkin akan terlihat persis dengan aslinya.

Ikuti kami di

ARTIKEL TERKAIT

-